Skip to main content

Posts

Disini (Kayaknya) Ada Setan

Sejak akhir tahun, kakakku sudah jarang pulang. Dia tetap di Makassar, cuman dia sibuk. Macam-macam kayak ngerjain penelitian untuk skripsinya, dll. Makanya dia.. umm.. cari tempat tinggal yang deket dari kampus dan untungnya dapat. Bukan kost sih, kayak dia tinggal di situ karena sudah menjadi bagian dari komunitas di tempat itu.
Otomatis kamarnya sering kosong. Bisa berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Dulu dia pulangnya seminggu sekali, lama-kelamaan sudah jarang. Diantara ruangan-ruangan di rumah, kamarnya memang sejak kita kecil jarang ada yang masuk selain dia. Karena yaa.. kakakku sering ngunci kamarnya. Pokoknya ter-privasi banget lah. Lebih tepatnya kurang suka kalau ada yang masuk-masuk ke kamarnya dia.
Kamarnya juga banyak pernak-perniknya. Dulu sekitar tahun lalu, dia punya boneka beruang yang besaaarr sekali. Hadiah dari ex-nya. Tapi sudah dikasih orang, waktu saya bilang buat saya saja, dia ga mau. Kakakku gitu, barang-barang dari ex-nya biasa dibuang, dikasih orang atau…
Recent posts

Berteman dengan Fandy

Berteman dengan Fandy banyak memberiku pengalaman baru dan asik. Seperti nonton konser punk atau diajak main ke tempat nongkrongnya dulu waktu masih sekolah.

Waktu Fandy mau janjian ketemu sama temannya di sebuah konser punk yang cukup besar. Sampai disana, ada banyaakk sekali orang yang rambutnya berduri-duri, di cat, celananya robek-robek atau make baju tengkorak. Saya jadi penasaran pingin pegang rambutnya yang berduri-duri itu.

"Itu rambutnya dipakai apa? Hairspray?"
"Hahaha bukan lah. Makenya lem fox!"

Wow. Saya terdiam takjub.

"Mau coba pegang? Kalau mau saya panggilkan"
"Uh? Nda usah kayaknya"
"Rambutnya Fian pernah dikasih begitu"
"Masa?"
Fian itu teman kecilnya Fandy sekaligus teman main bandnya.

Lepuhan di Tanganku

Sewaktu menunggu hasul print di sekret, saya ngobrol sambil main korek. Bakar- bakar tutup aqua gelas plastik gitu kan, nah pas apinya sudah mau sampai di tanganku, saya langsung kibas ke atas. Pikiranku, apinya bakal ikut hilang kayak kalau saya bakar tisu atau kertas. Tapi yang terjadi karena yang ku bakar itu plastik, lelehan panasnya malah jatuh dan nempel di tangaku. Di kedua jempolku. Sontak, saya teriak keras sekali. Teman- teman pada nanyain kenapa. Saat tau apa yang terjadi, mereka memandangku dengan tatapan tidak percaya.

Saya sendiri juga tidak percaya.

Ku kira jika kita sudah berusia 21 tahun, kita tidak akan melakukan hal yang bodoh.

Ngeeengg..!!

Sekarang saya sudah bisa naik motor. Meski belum bisa diajak bertarung dengan truk-truk di jalan atau kendaraan lain. Niat naik motor muncul gara-gara semua temanku pada bilang ‘masa tidak bisa naik motor?’ dengan nada yang menjatuhkan. Jadi saya belajar naik motor dengan adikku, tapi hanya satu kali. Hari-hari selanjutnya tidak pernah lagi. Sampai niat untuk mencoba lagi muncul. Saya belajar naik motor kali ini dengan motornya Fandy. Fandy mau kok ku jadikan kelinci percobaan untuk menjadi boncenganku. Meski dia belum punya asuransi. 
Saya belajar berkali-kali di tempat yang berbeda-beda. Kadang jalan keluar dari kampus ke jalan besar, jalan keluar dari rumahnya, tapi yang paling mahir waktu di daerah jalan masuk menuju kompleks perumahan elit. Kejadiannya sore jam setengah limaan. Di sana ternyata banyak orang yang foto-foto karena sunsetnya bagus dengan latar belakang sawah, ada juga yang belajar nyetir. 
Berbicara mengenai film, saya tidak update. Apalagi kalau film sejenis superhero America saya tidak tertarik. Kayak Superman, IronMan, Ant-Man, Deadpool dan cs-annya. Paling- paling saya tau jalan ceritanya dari obrolan teman- teman atau ga sengaja dengar dari anak- anak yang sering duduk di tangga kampus. Film- film sekarang scene-nya bisa ditebak. Jalan cerita, endingnya pun bisa ditebak juga. Soundtracknya juga nyaris sama, kekinian sekali :)) Kecuali untuk beberapa film, kayak film horror. Jadi saya lebih suka nonton film- film era 90-an atau 2000 awal. Ceritanya lebih sederhana, soundtracknya juga bagus- bagus, ga pasaran dan scene nya juga oke. Saya suka kalau mereka janjian ketemu satu sama lain dengan menggunakan telepon rumah atau membuat janji di sekolah/ kampus untuk bertemu di suatu tempat. Pergi menggunakan sepeda, sepatu roda atau skateboard. Dan hal- hal yang sudah jarang dilakukan sekarang. Biasanya saya cari referensi di Pinterest trus nyari synopsis dan ratingnya baru s…

Ultah yang ke 21

Ulang tahun yang ke 21, Fandy menghadiahkanku jam tangan yang kami beli di toko punk merchandise langganannya. Waktu itu dia beli scraftnya 'Rancid', sambil menunggu saya lihat- lihat barang yang lain. Dan ada jam tangan yang bagus, tulisannya Sex Pistols. Tapi karena uangku lagi ga ada jadi belinya kapan-kapan saja.

Pulang dari toko, Fandy tiba- tiba tanya 'mau hadiah apa?'
"Jam tangan yang tadi, haha"
Dia mengiyakan.

Lusanya saat kita mau ke kampus, kita lewat jalan yang tidak biasanya. Awalnya saya tidak sadar karena melamun, memikirkan banyak hal gitu. Tapi ujung- ujungnya saya jadi sadar kalau kita mau ke toko itu. Saya sempat bilang kalau tidak jadi saja hadiahnya karena mahal. Kan lumayan kalau beli yang biasa- biasa saja bisa dapat dua. Tapi saya malah dimarahi. Katanya tidak apa-apa. Tapi jam Sex Pistols-nya sudah ga ada. Sebagai gantinya saya pilih yang NOFX, karna Fandy juga suka itu.
Ya sudah.
Tapi Fandy kasihan sih, dia kan tidak punya jam juga. …

Celana Robek-robek

Tiap Fandy pergi dengan celana robek-robeknya, saya jadi pingin coba juga. Satu kali, Fandy datang ke rumah dengan celana robeknya, waktu itu kita mau pergi ke Benteng tapi Fandy menunggu dulu di ruang baca di rumah, eh ternyata ada ayahku sedang duduk di situ. Celana robeknya Fandy pun jadi pusat utama. Kening ayahku langsung berkerut, untung saja Fandy tidak dipelototi. 
[tapi sekarang celana robek-robeknya sudah dijadikan celana pendek karena celananya sudah terlalu robek sekali]