Skip to main content

Posts

Showing posts from February, 2015

SUCI, Jogja dan Cinta Beda Agama

Kemarin malam, Amri anak yang alaynya natural itu, ngirim foto comica SUCI yang akan manggung di Makassar tanggal 1 Maret nanti. Ajakin nonton, tapi fotonya aja yang dikirim. Tiketnya engga. Sudah pasti saya ga bisa datanglah. Saya lagi ga punya uang. Beli batu cincin saja susah~  Sudah dua kali saya melewatkan SUCI secara live. Hiks. Harga tiketnya ga mahal sih kalau saya punya uang. Tapi nonton di tv sudah cukuplah. 
-------
Oiya kemarin siang, temanku Nabila datang mengadakan kunjungan. Akhirnya setelah berminggu-minggu, dia muncul ke permukaan juga. Kita ngobrol panjang lebar tapi bukan gosip kok. Lebih ke arah kehidupannya di kampus, cerita geng motor, penjambretan dan SBMPTNku. Trus liburan tahun baru ini, dia ke Jogja. Ciee ga bilang-bilang karena takut saya nitip oleh-oleh. Tapi ternyata, saya dibawakan baju kaos yang kembar sama dia. Mayan, nambah baju rumah. Saya jarang dibelikan baju rumah soalnya. Karena baju rumah yang ku beli kelas 1 SMP, masih muat masa. Jadi ragu deng…

Subuh atau Malam?

*Waktu SMP*

*Tidur sore. Bangun jam 6*

Saya : *Masih dalam keadaan setengah sadar* Umi, ini subuh atau malam?

Kakak : Subuh.

Beberapa menit kemudian..

Saya : Mi, kenapa masih gelap padahal sudah jam 6 lewat?

Umi : Ini malam kan

Saya : Katanya kak qilah subuh.

Umi : Malam nak..

((Mau aja di begoin sama kakak sendiri.))

Ringan

*Saya naik di motor*

Beberapa jam kemudian...

Saya  : Tante, kok belum jalan?

Tante : Oh, sudah naik toh?

Saya  : Yaelah, dari tadiiii

Tante : Ga kerasa soalnya.

((Seringan itukah diriku))

E-book Vs Paper Book

Kamu lebih suka baca buku lewat ebook atau buku fisiknya?
Saya yakin para penggemar berat baca buku, pada jawab buku fisik. Meski ebook lebih praktis, tinggal download-baca di hape atau tab (sekarang siapa sih, yang kemana-mana ga bawa gadget?) dibanding menjinjing atau memegang buku dengan resiko berat dan kelupaan di suatu tempat. Namun setidaknya membawa buku lebih keren ketimbang gadget dan lebih aman dari para penjambret. Ga ada cerita kriminal kan, seseorang menjambret buku? Dan ada banyak perasaan sewaktu kita membaca buku fisik yang tidak kita dapatkan di ebook.
 Seperti menghirup dalam-dalam aroma buku sebelum dibaca? Membaca nama-nama yang ikut berpartisipasi dalam buku? Siapa yang menerjemahkan, editor, desain sampul, tahun pertama terbit yang versi originalnya (jika buku terjemahan) serta cetakan ke berapa? Merasakan lembaran-lembaran buku? Ada yang halus, kasar, kertasnya ringan. Buku yang dipersembahkan untuk siapa? Ada lho, orang yang kayak gini.

Suka Nanya.

*Saya lagi goreng telur*
Kakak : Bikin apa? *melihat ke wajan
Saya   : *Diam*
Kakak : Ih, ditanya diam.
Saya   : Kan bisa lihaaatt. Lagian kalau saya jawabnya martabak, pasti kakak bilang 'martabak apanya? Itu telur'
Pertanyaan yang seharusnya hanya dijawab dengan satu kata, dijawab menjadi kalimat yang panjang.
Akupun merasa lelah.