Skip to main content

Posts

Showing posts from April, 2015

Kakek! Apa Kabar?

Setelah lima belas tahun kakek pergi, cucumu yang kedua ini sudah lupa rasanya punya kakek. Apakah rasanya sama seperti memiliki nenek? Waktu itu, umurku masih lima tahun. Belum mengingat banyak hal. Jika melihat foto kakek, aku merasa struktur wajah kakek tegas seperti Sherlock Holmes tapi versi lembutnya. Hehe.

     Jika aku membaca buku sejarah, kadang aku bertanya-tanya apa kakek bisa menjelaskan keadaan zaman dulu lebih rinci dibandingkan buku dan guruku?

     Tentang keadaan Indonesia sebelum merdeka gitu. Pasti seru campur menegangkan. Apa rasanya sama seperti main game perang yang sering ku mainkan?

     Bagaimana dengan musik zaman dulu? Kakek punya lagu kesukaan?
     Apa?
     Country Roads?
     Ya ampun, aku juga suka lagu itu terutama bagian reff terakhirnya. Ternyata selera kita sama.

Turunkan Harga Angkot Ya? Ya?

Akhir-akhir ini saya sudah jarang nonton tv. Lebih sering dengar radio sih. Nonton Stand Up Comedy saja, sudah tidak segencar dulu. Yak, SUCI tahun ini ga semenarik SUCI 3 dan SUCI 4. Oh iya, sore tadi saya baru tahu kalau hari ini, Hari Angkutan Nasional. Setelah sekian tahun jadi penumpang tetap angkot. Jadi gini, saya belum bisa naik motor dan belum punya kendaraan pribadi. Kendaraan pribadi satu-satuku adalah sepeda warisan turun-temurun. Selain itu sisanya diantar ayah, naik angkot, naik bentor dan jalan kaki.

Ku kasih tahu satu hal ya, tarif angkot di Makassar mahal. ((MAHAL))

Boleh Cuci Kaus Kaki?

Di suatu pagi..

Adik (10 tahun) : Bang, kalau saya cuci kaus kaki, kering nda?
Saya : Tidaklah. Mana bisa kering.
Adik : Tapi, saya kan masuknya siang
Saya : Iya, tapi kalau mataharinya kek gini, nda kering lah.
Adik : Kan dimasukkan ke mesin cuci.
Saya : Iya, tapi tidak bakal kering. Terutama bagian karetnya.
Adik : Tapi, kalau..
Saya : YA SUDAH, KALAU YAKIN BAKAL KERING CUCI SAJA. KENAPA MESTI TANYA-TANYA.
Adik : Ih, marah. Ya sudah, pakai kaus kaki yang satunya saja.

(GGRRRR)

Hati-Hati Naik Angkot. Apalagi Sendiri.

Ketika saya pergi les malam, saya punya pengalaman yang cukup membuatku was-was. Ceritanya begini.

Jarak dari rumah ke tempat les, sekitar tiga puluh menit. Tapi karena saya sedang di rumah tanteku, jaraknya bertambah menjadi 45 menit. Silahkan di total semuanya. Ya, lumayan bisa tidur atau baca buku dulu lah. Seperti hari-hari kemarin, saya berangkatnya 17:30 kemudian turun di tempat akhir pemberhentian angkot. Bisa dikatakan saya adalah penumpang pertama dan terakhirnya, meski ada beberapa penumpang yang naik turun juga. Namun tidak jadi masalah karena angkot yang kunaiki adalah angkot kampus. Sejauh pengalamanku, semua sopirnya baik dalam artian tidak ada yang aneh-aneh.
Setelah sampai, saya menyebrang. Salah satu kegiatan yang perlu meningkatkan ketajaman mata dan insting. Apalagi jalanan sedang padat-padatnya. Jam pulang kantor kan.

Lain Kali Jangan Bawa Uang Pas-pasan

Seumur-umur saya belum pernah ke bank sendirian. Palingan saya menemani atau nitip transferan lewat orangtua atau kakak kalau ada keperluan. Norak bukan?
Pagi ini, karena ada urusan yang sudah mendesak (karena ditunda dari kemarin-kemarin). Saya ke bank yang ada di dekat rumah. Jaraknya sepuluh menit jalan kaki kalau jalannya sambil lihat pemandangan. Kali ini perginya sendiri, orang rumah sedang pada sibuk. Tapi saya sudah diaajarin kalau mau nyetor caranya begini dan begitu. Kecuali satu hal.
Supaya antrinya ga lama, saya perginya jam delapan. Dan beruntungnya memang sedang sepi. Saya dapat nomor antrian ke sepuluh dan sekarang sudah nomor antri kelima. Sambil menunggu, saya membaca buku. Karena hapeku ga ada aplikasi yang menariknya.
Setelah membaca tiga cerita, nomorku dipanggil. Saya maju dan semuanya berjalan normal seperti orang-orang sebelumku. Sampai saat mba-mba itu mengatakan;