Sunday, March 27, 2016

Jadi Mak Comblang

Tanpa sengaja aku sering menceritakan kakakku pada orang yang sering ngobrol denganku. Meski orang itu hanya sebatas bertanya apa aku punya kakak dan kuliah dimana, tapi jawabanku akan sangat panjang hanya karena itu. Seperti kesibukannya sekarang bahkan beberapa pengalaman yang pernah ia ceritakan kepadaku, aku ceritakan kembali. Tentu saja bukan semacam pengalaman ‘aib’. Aku sudah bisa bedakan, aku kan sudah dewasa. Umurku sudah 20 tahun sekarang.

Ada kebanggaan tersendiri kalau orang-orang kagum terhadap kakakku, yah meski risikonya aku harus dibandingkan atau dipertanyakan mengapa kami berbeda. Tenang saja aku sudah kebal dengan hal seperti itu.

Sampai suatu ketika teman seangkatanku namun beda jurusan ingin melihat kakakku. Awalnya hanya bercanda apalagi kalau teman-teman pada ngumpul. Tapi lama-kelamaan dia serius. Dia sering menanyakan hal-hal tentang kakakku kalau teman-teman sedang tidak ada.

Aku bercerita bahwa sebulan terakhir kami jarang bertemu sebab dia sangat sibuk hingga jarang pulang ke rumah. Kalau pun ia pulang kami tidak bertemu. Aku pergi kampus, dia masih di kamarnya. Aku pulang kampus dia belum pulang atau dia sudah pulang tapi sudah terlelap di kamarnya. Jadi dia harus bersabar.
----

Hari itu kakakku tinggal di rumah seharian karena sakit. Aku pun memanfaatkan kesempatan ini dengan bercerita bahwa aku punya teman yang ingin bertemu dengannya. Kakakku bingung. Aku pun menceritakan temanku itu pada kakakku, seperti dia seumuran dengannya, dia juga suka baca dll, dan  tidak lupa untuk menunjukkan fotonya serta isi chat-ku dengannya. Kakakku tertawa, terutama saat membaca siapa tau dia tulang rusukku yang hilang.