Skip to main content

Ngeeengg..!!


Sekarang saya sudah bisa naik motor. Meski belum bisa diajak bertarung dengan truk-truk di jalan atau kendaraan lain. Niat naik motor muncul gara-gara semua temanku pada bilang ‘masa tidak bisa naik motor?’ dengan nada yang menjatuhkan. Jadi saya belajar naik motor dengan adikku, tapi hanya satu kali. Hari-hari selanjutnya tidak pernah lagi. Sampai niat untuk mencoba lagi muncul. Saya belajar naik motor kali ini dengan motornya Fandy. Fandy mau kok ku jadikan kelinci percobaan untuk menjadi boncenganku. Meski dia belum punya asuransi. 

Saya belajar berkali-kali di tempat yang berbeda-beda. Kadang jalan keluar dari kampus ke jalan besar, jalan keluar dari rumahnya, tapi yang paling mahir waktu di daerah jalan masuk menuju kompleks perumahan elit. Kejadiannya sore jam setengah limaan. Di sana ternyata banyak orang yang foto-foto karena sunsetnya bagus dengan latar belakang sawah, ada juga yang belajar nyetir. 

Saat sedang santai-santainya bawa motor, tiba-tiba Fandy mengambil alih rem. Saya kaget. Dia bilang putar cepat, kita sudah masuk arena balapan liar. Lha, pantasan sepi trus di depan banyak orang yang berdiri di pinggir. Arena balap rupanya. 

Ya sudah kita putar arah.

Trus saya bawa motor lagi. Dan waktu saya tanya Fandy sepanjang jalan, kok tidak ada suaranya. Pas saya nengok, eh orangnya sudah ga ada. Huhu. Ternyata waktu saya mutar di gerbang masuk, dia turun. Jadinya kan saya ngomong sendiri. 

Kalau saya bawa motor, saya masih sering rem depan. Lupa kalau ada rem kaki. Untung fandy ga mabok. Tapi kasian, pahanya sering terkilir kalau saya hilang keseimbangan.

Waktu kita pergi ke Bone bertiga, pulangnya saya yang bawa motor. Jalannya sepi dan lurus-lurus saja, jadi berani. Yah, meski kadang satu-dua truk lewat. Saya sama Fandy, Andrian bawa motor sendiri. Kita sudah ajak Randy sama Fadly juga tapi mereka ga mau ikut, ya sudah Andrian solo karir.. 

Tapi kalau sudah masuk perbatasan atau jalan poros, saya kembali dibonceng lagi. Naik motor ternyata enak ya kalau jalannya lurus-lurus saja dan sepi. 

Comments

  1. Hehehehe. Yah, paling ngga udah nyoba belajar naik motor ya. Berjuang terus, Kawan!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

5 Playlist Buat Kamu yang Rindu Rumah

Sejauh apapun kita pergi, ujung- ujungnya pasti tetap kangen rumah. Entah suasananya atau kebersamaan bersama keluarga . Rumah memang punya magnet tersendiri yang selalu menarik kita untuk kembali pulang. Memang sih ngga semua liriknya pas, tapi yang penting ada kata 'home-home'nya lah. Hihi. Semoga beberapa lagu ini bisa mengobati rasa rindu kalian terhadap rumah!

Gagal di SBMPTN Kedua

Saya mulai belajar SBMPTN tanggal 4 April. Untuk alumni sepertiku, itu sudah termasuk terlambat. Seharusnya saya mulai belajar sejak tahun lalu Desember 2014 lah. Tapi keinginan untuk mempelajari kembali materi SBMPTN baru mucul di bulan Maret 2015! Entah setan apa yang merasuki ku. Sebab sebelum bulan April tiap buka materinya tuh, bawaannya ngatuk dan nguap-nguap terus. Mungkin karena saya belajar dan berjuangnya sudah sendirian. Tahun lalu kan masih pada terhubung sama teman-teman, berbagi informasi-informasi, ada teman cerita. Meski teman-teman baikku sering menyemangati, tetap terasa berbeda. Saya merasa seperti ditinggalkan sementara mereka terus melaju bersama.
Tanggal 4 April saya sudah belajar serius walau frekuensi antara ngatuk-nguap-nguap berbanding lurus dengan materi yang saya baca per-halaman. Saya pun memutuskan bangun tiap jam dua pagi untuk shalat malam trus belajar sampai subuh sambil memutar instrumental di youtube, enak belajar jam segitu. Tenang dan Sunyi, saking…

Gue Dicakar Setan!!

Sudah jam 00:20 WITA. Tapi, gue ngga ngantuk, padahal gue ngga tidur siang dan kemarin gue baru tidur jam 02.30 WITA. Mungkin ini efek karena gue libur panjang. Malam ini juga gue bingung mau nulis apaan. Tunggu ya, gue ingat-ingat kejadian yang menarik.             Hmmm.....             Uhmm...             Ah! Gue ingat. Beberapa hari yang lalu, gue bangun pagi dengan seperti biasa. Pergi ke sekolah biasa. Pulang sekolah juga masih tetap biasa. Nah. Pas gue mau tidur dan cuci muka, gue lihat ke arah pipi gue yang dekat leher. Garis merah panjang. Seperti habis dicakar sesuatu.             Spontan gue lihat ke arah kuku gue. Pendek. Gue perhatiin sekali lagi bekas cakaran. Kalau memang gue mencakar pas tidur atau gue dicakar sama saudara gue, mestinya bentuknya ngga kayak gini. Ini tuh berbentuk cakaran yang panjang. Tapi Cuma segaris. Dan dalam. Seperti dicakar sesuatu. Tapi ngga perih.             Gue pun mengintrogasi anggota keluarga gue tanpa terkecuali. Jawabannya sama …